Pengen jalan-jalan ke pantai wisata yang cantik tapi tidak suka suasana hiruk pikuk? Maka jalan-jalanlah pada hari kerja. Itulah yang kulakukan dengan teman-temanku pada hari senin yang lalu (6/10/2008).
Aku, Candra, Rahim dan Iwan mengunjungi pantai wisata Tanjung Pinggir di Sekupang Batam. Dengan mengendarai dua buah sepeda motor kami meluncur dari kawasan Batam Center menuju Pantai Tanjung Pinggir yang jaraknya tak kurang dari 30 kilometer.
Perjalanan panjang itu ternyata tak berlangsung lancar. Menjelang Simpang Kabil kami dihadang hujan. Kami pun berhenti di gerbang Plamo Garden yang tak diguyur hujan. Dan nun satu kilometer di depan kami, tepatnya di Bukit Indah Sukajadi, hujan turun dengan derasnya. Baru kali ini aku menyaksikan hujan local secara jelas. Seandainya tadi kami nekad jalan terus bisa dipastikan kami telah basah kuyup.
Setelah hampir 15 menit menunggu, hujan di depan tampak mulai reda. Kami lantas kembali melanjutkan perjalanan. Tapi ternyata hujan reda itu hanya fatamorgana. Hujan ternyata masih lumayan deras. Ujung-ujungnya kami basah juga.
Karena sudah kadung basah dan perjalanan masih panjang, kami putuskan untuk menerobos hujan. Satu kilometer pertama, jaket dan celana jeans basah. Dua kilometer, baju kaos dan celana pendek basah. Tiga kilometer, singlet dan celana dalam basah. Dingin menggigit, wajah tertusuk-tusuk tetesan hujan. Sakit, tapi masih lebih sakit cinta dikhianati(???).
Menuju ke Tanjung Pinggir kami harus melewati salah satu dam paling keren di Batam, yaitu Dam Sungai Ladi. Di Dam Sungai Ladi kami berhenti, sekedar berfoto-foto ria. Anda tahu kan dam itu apa? Iya, dam adalah semacam waduk atau bendungan. Dam-dam di Batam ini digunakan untuk menampung cadangan air minum untuk warga Kota Batam. Konon Dam Sungai Ladi paling adalah yang paling indah pemandangannya dibanding dam-dam lain di kota Batam. Dan kononnya lagi, Dam Sungai Ladi pula yang paling banyak ”penunggu”nya. Selain Dam Sungai Ladi, dam-dam lain di Kota Batam adalah Dam Muka Kuning, Dam Nongsa, dan Dam Duriangkang. Dam yang disebut terakhir adalah yang terluas dan dulunya merupakan teluk yang dibendung. Heran juga kenapa airnya nggak asin padahal dulunya laut…
Perjalanan kami lanjutkan kembali. Melewati daerah Tiban, Sungai Harapan dan Sekupang. Memasuki kawasan Tanjung Pinggir, jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Setelah melewati stasiun Batam FM dan KTM Resort, sampailah kami di pantai Tanjung Pinggir.
Pantainya bagus sekali, berpasir kuning bersih. Di teras pantai terhampar padang rumput yang cocok untuk duduk-duduk sambil makan bersama keluarga besar. Dan karena hari itu hari senin, maka pengunjung pantai tidak terlalu ramai, malah cenderung sepi. Tapi justru suasana pantai yang seperti ini yang aku suka. Aku tak suka pantai yang terlalu ramai seperti pantai Ancol di hari lebaran atau Pantai Nongsa di hari libur.
Pantai Tanjung Pinggir tak terlalu panjang, paling banter hanya satu kilometer. Di ujung kiri dan kanan, pantai dibatasi oleh semenanjung kecil yang berbatu-batu. Cocok untuk tempat memancing. Dan yang paling istimewa, beberapa kilometer di lepas pantai, nun di garis horison, negara Singapura tegak dengan angkuhnya. Gedung-gedung jangkung di negara kota itu jelas terlihat. Seandainya cuaca sedikit lebih cerah kami pasti bisa menghitung jumlah lantai gedung-gedungnya.
O iya, untuk masuk ke kawasan pantai ini kita dikenakan biaya masuk Rp.5000,- per motor oleh pengelola. Atau kalau naik mobil, maka akan dihitung Rp.2500,- per kepala. Bisa juga lita masuk ke kawasan pantai ini lewat jalan kelinci yang tidak perlu bayar, tapi keamanan kendaraan anda siapa yang menjamin?
Di pantai, kita berempat berenang. Semua gaya renang kami coba. Mulai dari gaya dada, gaya punggung, gaya kupu-kupu, gaya katak, sampai gaya batu ^_^. Pesawat-pesawat dari berbagai penjuru dunia terbang rendah di atas kepala kami, bersiap-siap mendarat di Bandara Changi Singapura. Ya, Singapura memang begitu dekat. Seandainya kami hanyut saat berenang, bisa diprediksi jenazah kami akan ditemukan besok terdampar di pantai Singapura.
Sayang kedekatan secara geografis itu belum bicara banyak. Kesejahteraan dan kemajuan pembangunan di kedua pulau(Batam dan Singapura) masih terpaut jauh. Saat singapura menggelar Grand Prix Formula 1 september 2008 yang lalu dimana puluhan ribu wisatawan mancanegara dipastikan mengunjungi negara kota itu, Batam sama sekali tak kecipratan berkah dari turis yang bejibun itu. Sayang sekali…
Puas berenang, kami meninggalkan pantai Tanjung Pinggir menuju Tanjung Uma. Setelah sempat salah jalan dan melewati jalan tanah yang ribetnya seperti arena motorcross, akhirnya kami sampai di bukit Tanjung Uma. Dari ketinggian bukit ini kami bisa melihat kawasan Jodoh, Nagoya, Baloi, Tiban dan (lagi-lagi) Singapura. Bukit ini cocok buat foto-foto narsis atau nongkrong bersama pasangan terkasih. Jika suatu saat anda ke Batam jangan lupa mampir ke bukit ini ya. Letaknya tak terlalu jauh dari DC Mall.
Tak terlalu lama di bukit Tanjung Uma, kita meluncur ke Mall Nagoya Hill. Malu juga rasanya masuk ke mall megah ini setelah berenang di pantai tanpa bilas dengan air tawar. Di Mall kita muter-muter mencari toko yang menjual Casio fx4500. Apa itu? Casio fx4500 adalah kalkulator. Tapi ternyata dia bukan sembarang kalkulator. Mencarinya susah bukan main, susah minta ampun(dinyanyiin kayak Mulan Jameela). Hampir semua pusat perbelanjaan di seputaran Jodoh dan Nagoya kami sambangi, mulai dari Nagoya Hill Mall, Lucky Plaza, Centre Point, DC Mall, Samarinda, Robinson, Plaza Avava, dan Top 100 jodoh, tapi sosok Casio fx4500 belum juga terlihat.
Akhirnya Casio fx4500 terlihat penampakannya di Gramedia BCS Mall. Harganya pun gila-gilaan; Rp.560.000,-. Duit segitu mah sudah bisa beli hape baru Sony Erricsson K220i, lengkap dengan fitur kamera VGA dan Radio. Tapi ya begitulah, kebutuhan tiap orang kan berbeda-beda.